Bismillah,
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….
Ibu, apapun akan ia lakukan untuk anaknya, bahkan nyawanya sendiripun rela ia korbankan bagi anak-anaknya. Lihat saja ketika seorang ibu berusaha denga keras, penuh dengan kesakitan untuk melahirkan anak yang telah dikandungnya selama Sembilan bulan. Bukankah tak jarang kita mendengar berita seorang ibu yang wafat karena melahirkan anaknya. Itulah salah satu perjuangannya, dan Allah tak akan menyia-nyiakan perjuangan itu dengan menjanjikan pahala syahid baginya (InsyaAllah). Dan ketika seorang ibu telah melahirkanpun, tak jarang ia harus merasakan kesakitan kembali. Sungguh besar perjuangan serta jasa-jasanya itu, maka wajar saja jika Allah meninggikan kedudukannya dibandingkan ayah, dan memerintahkan kita untuk berbakti kepadanya, seerta melarang kita untuk tidak meninggikan suara dihadapannya apalagi membentaknya, bahkan hanya sekedar perkatakan “ah” pun kita dilarang untuk mengatakan kepada ibu dan juga ayah tentunya.
Tak diragukan lagi bahwa orang yang paling berjasa dalam hidup seorang anak ialah ibu nya. Tanpa ibu kita tak mungkin lahir di dunia yang penuh dengan hiruk pikuknya ini. Melalui rahimnya Allah titipkan seorang calon manusia untuk kemudian dilahirkan. Tugas seorang ibu bukan hanya sekedar menyediakan Rahimnya sebagai tempat sebelum aku dilahirkan ataupun tak hanya sekedar melahirkan aku semata, tetapi ada begitu banyak rentetan tugas yang harus ia emban setelahnya. Mulai dari menyusi, menyapih, menenangkan disaat aku menangis, memberikan rasa aman dan nyaman, menyediakan apa yang dibutuhkan oleh ku, yang telah merawat, dan membesarkan, serta yang telah mendidik aku dengan kasih sayangnya, agar aku dapat menjadi pribadi yang lebih baik ketika semakin beranjak dewasa kelak.
Ya itulah Ibuku bernama Leni Marlina, beliau lahir di Pontianak pada tanggal 06 Juni 1975. jika dihitung umur ibuku saat ini sudah mencapai 45 tahun. sudah cukup tua memang. Ayah dari ibuku harus pergi lebih dulu mengahadap Sang pencipta, meninggalkan ibuku yang baru berumur 18 bulan dan juga adik ibuku yang bahkan belum dilahirkan. Hingga pada saat umur ibuku sekitar tiga tahun, nenekku menikah lagi dan dikaruniai tiga orang anak perempuan yang kemudian menjadi saudari tiri ibuku. Tak seperti cerita si bawang merah yang membenci bawang putih sebagai saudari tirinya, ibuku dan juga adik-adik tirinya tetap menjalin hubungan yang harmonis dan saling membantu satu sama lain, serta saling memberi nasehat sabagai saudara, walaupun beda ayah mereka tak menganggap itu sebagai suatu pengahalang mereka untuk tetap harmonis, karena yang mereka yakini mereka lahir dari Rahim yang sama yaitu dari Rahim nenekku. sebagai anak tertua ibuku juga memiliki tanggung jawab terhadap adik-adiknya.
Ibuku berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tetapi selain menjadi ibu rumah tangga ia juga membantu ayahku dalam bekerja, seperti menanam padi, berkebun dan lain sebagainya. Ibu ku merupakan sosok yang cekatan dalam melakukan sesuatu pekerjaan, dan juga terampil dalam bidang kesenian. Beberapa produk kerajinan telah berhasil ia pasarkan dari hasil kerjasama antar pikirann, mata, dan juga kedua tangannya. Hingga dengan hal itu dapat mengasilkan pundi-pundi rupiah yang dapat menambah pemasukan. Bisa kukatakan bahwa ibuku itu serba bisa dalam berbagai pekerjaan. Dan aku iri dengan kemampuan yang ibuku miliki itu, kenapa tak diturunkan saja kemampuan dan bakatnya itu kepadaku. Namun hal itulah yang menjadi salah satu kebangganku terhadapnya. Sosok yang mengajarkan banyak hal mengenai lika-liku kehidupan kepadaku, hal itu pun tak lepas dari pengajaran ayahku juga.
Sewaktu SMP ibuku tinggal bersama pamannya atau adik dari nenekku dan juga bersama istri dari adik nenekku. Mereka lah yang telah berjasa dalam membiayai sekolah ibuku. Sebagai ucapan terimakasih ibuku merawat anak-anak dari paman dan istrinya itu ketika mereka sedang tak berada dirumah. Ibuku sangat pintar dan aktif disekolah, ia banyak mengikuti kegiatan organisasi, ia juga sering ikut andil dalam beberapa perlombaan dan tak jarang pula ibu ku berhasil menyabet predikat juara dalam setiap perlombaan. Beberapa piagam penghargaan yang telah diraihnya, masih tersimpan dirumahku menjadi saksi bisu atas perjuangan dan kemenangannya. Tetapi sayangnya setelah lulus SMP ibuku tak melanjutkan ke jenjang SMA dikarenakan faktor keuangan yang menjadi kendalanya. Namun walau hanya berijazahkan SMP, ia tetap dapat aktif dalam beberapa organisasi atau lembaga masyarakat, ia juga menjadi pengurus inti dari organisasi tersebut dan pernah menjabat sebagai ketuanya. Bahkan ibuku sempat mencalonkan diri mejadi kepala Desa di kampungku. Ya, yang aku tau ibuku memang memiliki keahlian dalam memimpin dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi serta dapat memperjuangkan keadilan bagi orang-orang yang disekitarnya. Tetapi ia tak berhasil memenangkan suara dalam pemilihan tersebut, mungkin ada beberapa faktor, tapi yang ku yakini bahwa mungkin Allah tak ingin membuat ibuku memikul beban tanggung jawab yang berat kedepannya dan menginginkan untuk lebih fokus dalam urusan rumah tangganya.
Kini ibuku sudah tak muda lagi, matanya tak sejeli dulu hingga ia harus menggunakan kacamata sebagai alat bantu penglihatannya, kulitnyapun tak sekencang dulu, wajahnyanya yang mulai menampakkan kerutan, serta fisik yang sudah mulai melemah. Tetapi meskipun begitu ia terus berjuang dan terus melangkah. Bumi ini mejadi saksi atas setiap keringat yang jatuh darinya. Pasti ada rasa lelah yang ia rasakan, namun rasa itu bukan menjadi alasanya untuk berhenti. Ia hanya merasa butuh istirahat sebagai pereda rasa lelah itu kemudian melanjutkan kembali kegiatan atau pekerjaannya.
Sebagaimana layaknya seorang ibu, ibuku juga pasti ingin yang terbaik untuk ku dan juga saudara laki-laki ku. Ia dan juga ayahku sangat mengedepankan pendidikan, walau mereka tak bisa hingga sarjana mereka sangat berharap bahwa salah satu dari anaknya dapat menjadi sarjana. Meskipun mereka harus memeras keringat lebih banyak lagi, itupun tetap mereka lakukan agar dapat melihat anaknya sukses. Dengan melihat perjuangan mereka untukku, menjadi pemicu bagiku untuk terus berjuang dalam meniti kesuksesan, sukses didunia dan juga diakhirat-Nya. Maka dari itu tak jarang aku meminta do’a kepada keduanya. karena ridho Allah tergantung dari ridho orang tua. Dan ibuku mengatakan bahwa seorang ibu (orang tua) itu akan selalu mendo’akan kebaikan untuk anak-anaknya tanpa diminta oleh anak-anaknya itu sendiri. Hikksss … :’(
ya tak kupungkiri Mungkin aku yang sekarang masih sering membuat ibu dan juga ayahku kecewa ataupun sedih, tapi aku berharap untuk kedepannya agar aku dapat membuat mereka bangga kepadaku.
Seorang ibu memang menjadi salah satu idola bagi anak-anaknya, begitu juga aku. Aku ingin seperti ibuku yang terus berjuang dalam meniti kehidupan ini, menebarkan manfaat kepada banyak orang, serta menjadi sosok yang sangat kuat dan berani dalam mengahadapi segala rintangan dan masalah yang terjadi.
Sekian, dan terimakasih.
Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar